News
Wednesday 18 August 2010
18/08 : Celoteh : Merdeka
Pada sebuah acara pelatihan kepribadin yang diberikan kepada para sopir taksi diumumkan bahwa dalam rangka penghematan semua peserta diharapkan membawa bekal makan siang masing – masing. Pelatihannya sendiri bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang – yang sering disebut servise excellence. Hadirlah para sopir dengan antusias. Mereka membawa bekal terbaik dari rumah masing – masing. Para istri menyediakan kudapan favorit buat para suaminya. Bekal yang enak. Maklum kepala keluarga yang harus dimulyakan. Namun ketika acara tengah berlangsung dan tiba makan siang, sang instruktur memberikan komando agar semua bontot yang dibawa dari rumah harap diletakkan di atas meja masing – masing. Selanjutnya, silahkan tukarkan, saling tukar bekal dengan teman sebelahnya. Suasana pun jadi riuh – rendah. Kebanyakan para peserta pelatihan menyesal dan berat hati memberikan bekal terbaiknya ke teman sebelahnya. Itulah kesan di hari pertama.
Mengantisipasi kejadian di hari pertama, para peserta pelatihan berkeluh kesah panjang – lebar suasana pelatihan kepada isterinya, seraya berpesan agar dibawakan bekal apa adanya. Bekal yang nggak enak, tentunya. Sebab buat apa bawa yang enak – enak toh yang menikmati orang lain, bukan untuk dirinya. Itulah penjelasan yang diberikan kepada sang isteri. Dan suasana pelatihan pun berjalan seperti biasanya, sampai waktu yang ditunggu – tunggu tiba, yaitu makan siang. Namun, apa yang terjadi, instruktur memerintahkan untuk memakan bekal yang dibawa masing – masing. Bukan diberikan kepada yang lain. Banyak peserta yang nggrundel lagi dengan keadaan yang ada, karena tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. Situasinya laksana senjata makan tuan.
Di hari terakhir pelatihan, semua peserta baru sadar, atau tepatnya terpaksa sadar dengan keadan yang ada - dan memerintahkan kepada isterinya untuk membawa bekal terbaik. Kalaulah nanti dibagikan seperti hari pertama, dia bisa memberi yang terbaik buat orang lain. Namun jika tidak, maka dia bisa menyantap hidangan terbaik buat dirinya. Ada perasaan “merdeka” dalam diri mereka menyambut segala keadaan yang ada. Sebab sudah menyiapkan hal terbaik yang mereka bisa. Itulah inti service excellencenya.
Mumpung, di bulan suci mari sucikan hati. Mumpung di bulan puasa, mari meretas asa. Hidupkanlah kemerdekaan diri ini dalam hal yang bersahaja. Tak perlu memikirkan negara. Tak perlu memikirkan politik. Tak perlu memikirkan tetangga dan masyarakat pada umumnya. Tak perlu muluk – muluk. Cukup merdekakanlah diri sendiri ini seperti cerita singkat di atas tadi.
Kita sudah lama merdeka. Sudah 65 tahun. Tapi apa yang kita lakukan sampai saat ini untuk mengisinya. Banyak orang yang belum merdeka dari hawa nafsunya. Banyak orang yang belum merdeka dari keterikatannya. Banyak orang yang belum merdeka menyambut kehadiran teman atau sekelilingnya. Yang ada hanya persaingan dan pertengkaran yang terus mendera. Buat apa merdeka, kalau kita tidak memiliki kemerdekaan diri yang sebenarnya. Yaitu, mampu memberikan yang terbaik kepada orang lain seperti memberi yang terbaik kepada diri sendiri. Banyak orang yang menganggap memiliki kemerdekaan tetapi merampas kemerdekaan orang lain. Dalam lapar yang dalam dan menuju arti merdeka sesungguhnya renungkanlah kembali ayat berikut ini.
Allah berfirman: “Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (Al – Baqoroh 267)
Dan untuk menghilangkan rasa dahaga diri patut didalami kembali ayat yang penuh makna ini, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imron: 92)
Dalam hening puasa kali ini, renungkanlah kembali diri masing – masing. Saat yang pas untuk reorientasi pemahaman dan pengertian, sampai di mana diri ini melangkah, demi hal mendasar dalam diri ini. Kemerdekaan bukan hanya pasang bendera. Kemerdekaan bukan sekedar upacara. Kemerdekaan boleh datang dan pergi, tetapi ketika telah memiliki kemerdekaan hakiki, yang ada hanya keindahan dan kebahagiaan yang melampaui kemerdekaan itu sendiri. Dan itu akan benar – benar berarti ketika setiap diri berhasil mengabdikan yang terbaik buat negeri dan orang lain seperti berbuat baik terhadap diri sendiri. Akhir kata, dirgahayu RI ke 65 dan dirgahayu bagi diri yang telah memiliki kemerdekaannya.
Semoga bermanfaat,
Fami
18/08 : Andaikan Saya Yang Dicoba ...
Saat itu bulan ramadhan . Aku berada di Palembang bersama mitraku, Helmy yahya. Kami sedang melakukan perjalanan untuk bertemu dengan maestro pujaanku, untuk sebuah pekerjaan idealis. Kami akan bertemu dengan pengarang lagu anak legendaris , AT Mahmud.
Terdengar bunyi telpon yang langsung diangkat helmy dengan speaker mode.."boz, kita belum dapat talent buat acara naik haji gratis.."suara di seberang telpon terdengar galau. "Kok bisa?, "helmy berkata dengan nada tinggi, "sudah 3 hari shooting kok bisa gak nemu?". Setelah itu helmy diam mendengarkan argumen dari teamnya yang panjang. Wajahnya memerah. Bibirnya merapat dan jari tangannya didekatkan dan di gigit. Itu kebiasaanya kalau panik.
"Untung lagi di palembang, saya gak tau kalau ada anak triwarsana disini. Kita ke tempat shooting dulu", demikian sebuah kata terucap dari mulutnya dan setelah itu diam. Setiba di lokasi, sebuah rumah yang disewa sebagai tempat tersembunyi dari hidden kamera yang sedang menguji kelayakan seorang talent untuk berangkat di hajikan gratis sesuai thema acara tersebut.
Helmy memiliki standard yang ketat. Seseorang tersebut bukan "layak" bukan karena rekomendasi dari orang lain saja tapi dia harus lulus test. Ini memang memakan biaya, memang memakan waktu. Tapi inilah kesempurnaan yang menjadi cirinya.
"Mana data shooting talent hidden kamera", kemarin kemarin katanya lagi. Dalam sekejap kami menyaksikan video rekaman para talent tersebut di test berbagai cara. Dengan hidden kamera kita memperhatikan. Ustad ini, bapak anu, ujung2nya tidak ada yang layak. Lalu..saya disuruh menilai. "Faradhita..kamu lihat tuh yang ditest pas sebelum jumatan..dua ustad..,"helmy keluar dengan muka merah. Aku menurut perintahnya dan menyaksikan.
Biasa kami menggunakan penguji si rini, specialis penguji. Cantik, dewasa, anggun. Lengkap dengan jilbab dan kerendahan hatinya. Dia melakukan aksi ujiannya. Di depan ustad yang dimaksud dia datang jam 11.30, lalu berkata," saya ada masalah dengan perkawinan, suami saya.." dan seterusnya dia bercerita sangat meyakinkan.
Sang ustad talent mulai berdalih, mulai mewejang, dan menyaksikan adegan tersebut... aku sebagai wanita tahu sekali mimik wajah dan gerak mata seseorang yang ber"minat". Darahku naik.."kok begini sih?"..ini orang yang terpandang didaerahnya yang direkomendasi banyak orang. Menggeser duduknya dekat-dekat si rini. Hidden kamera menangkap seluruh adegan dengan jelas. Dan yang mengherankan...dia abaikan sholat jumat. Huh..hilang sudah rasa di hati, dasar buaya", aku berkata dalam hati.
Di video satunya. Setali tiga uang sama saja, malah pake pegang-pegang pundak si rini. Setiap berapa kalimat menyentuh apalah bagian tubuh si rini, tangan, seperti menepis kotoran dari jilbab, yang rasanya gak ada apa-apanya. Darah emosiku memuncak. "Gile nih..sama aja..dasar bandot semua".,Aku mendadak sangat marah. Aku wanita, tahu banget niat laki-laki macam itu,emosi banget.
Aku keluar ruang. Helmy nafasnya turun naik dengan cepat. "Gila nih..besok harus naik tayang jam 4 sore belum ada talent. Dimana rini?".
"Lagi ada talent, deket sini pak," seorang staf triwarsana menjawab.
"Nih, lagi kita test. Live tuh di ruang belakang". bergegas kami melihat. Seluruh krew berharap harap cemas. Muka semuanya tegang. "Jauh ga k dari sini", tanyaku. "Engak mbak, paling 500 meter", Jawab manajer helmy, ibrahim. "Siapa dia",tanyaku lagi.."dia guru bahasa indonesia, kalo sore ngajar ngaji". "Oh..",jawabku singkat.
Dalam monitor.Terlihat seorang bapak sedang duduk, kelelahan. Habis mengajar ngaji dia. Di masjid. Masuk si rini. Dengan gaya nya yang meyakinkan dia berkata," pak, saya ada anak angkat usianya 8 tahun kelas 2 SD. Saya sudah tidak kuat merawatnya". Dipotongnya kalimat ditambah emosinya.."nakal banget pak. Saya mau buang, saya mau kasih bapak saja." Si rini menyelesaikan kalimatnya dengan muka memerah. Dan membetulkan jilbabnya. Sehingga seluruh lekuk tuhnya sengaja terbentuk kesan seksi.
Sang bapak membuang muka, kemudian menunduk sambil menjawab, "aku terima ".."maksud bapak?", Kata rini lagi.
"Ya , sini anak itu, aku rawat dia, ini pasti kehendak Allah. Aku ikhlas", Dia menjawab sambil tetap menundukkan wajahnya.
Muka rini yang terlihat gugup, "boleh saya beri anak itu hari ini? Rumah kami jauh di tujuh ulu", rini menambahkan bobot ceritanya.
Sang bapak memiringkan pantatnya, di rogoh sakunya, ada uang ribuan berlembar-lembar..kira-kira 15 lembah dia berkata," uangku hanya segini".diberikan ke rini semua.."kamu ambil angkot bawa anak itu kemari..",tuturnya dengan santun.
Setiap adegan itu kami saksikan dengan tegang, bahkan penduduk sekitar mulai menggerombol ditempat kami. Sesak udara ruangan monitor. "Ayo kita kesana, full kamera", kata helmy memecah ketegangan.
Bergegas kami berangkat. Penduduk sekitar mengikuti gerak krew sebanyak 15 orang 3 kamera, 2 sound boom. Sangat menarik perhatian warga kampung sekitar. Setiba kami di lokasi masjid. Kamera langsung keluar dari segala penjuru. Sang bapak terkejut. Wajahnya bingung. Kemudian helmy yahya muncul dengan mengatakan," alhamdulillah bapak dapat hadiah naik haji gratis!"
Sang bapak terkejut bukan main..wajahnya tergetar..giginya bergemerutuk..tak bisa berkata-kata. Bersujud disajadah berkali-kali. Dan selang beberapa menit hadir penduk sekita kira-kira 5000an warga kampung sekitar tersebut tanpa komando mengumandangkan, "Labaik allauhumma labaik.." 5000 orang lebih meneriakkan kata-kata tersebut berulang..bergetar kami semua.
Airmataku turun tanpa sebab..aku bertanya pada seorang ibu berdiri sambil menangis.."siapa dia bu? ",Tanyaku.
."oh dia pak Rahmat. Dia guru bahasa indoneia di SD sini. Setiap bulan dia memberikan setengah dari gajihnya untuk membayar anak-anak dengan permen dengan apapun supaya mereka mau mengaji", jawab sang ibu sambil menggendok anaknya yang sudah agak besar.
"Setengah? ",Aku terperanjat
"Iya mbak", lanjut ibu tadi, "Dan itu dia sudah lakukan 25 tahun kira-kira, saya adalah muridnya pertama-tama, karena sangat miskin kami tak sanggup belajar tapi dia membimbing kami. Sekarangpun anak ku belajar ngaji sama pak rahmat. Dan masih diberi bonus hadiah supaya rajin mengaji".
Aku tersentak. Aku menyaksikan seorang bapak, yang lagi dipakaikan kain ihrom. Di kumandangkan talbiah, labaik Allamulabaik oleh separuh warga kampung yang mencintainya..di arak beramai-ramai dari masjid kerumahnya.
Tempat kediamannya berjarak 200 meter dari masjid. Untuk dipamitkan dan mohon izin ke sang istri. Setiba dirumah yang masih beralas tanah..sepasang suami istri renta berpelukan..aku masih mendengar sang bapak berkata," Allah mengabulkan doa kita bu..aku berhaji..aku yang miskin ini berhaji...suaranya lirih..mohon izin ya ..."
Tersungkur di tanah aku sambil mendengar kata-katanya.."Terima kasih Allah..terima kasih..masih ada orang seperti pak Rahmat engkau sisakan untuk kami...." tak henti-henti aku bersyukur.
Catatan : sekarang pak Ustad Rahmat mengelola RYI di Kupang NTT , Jl Tablolong KM 11 kel. Batake, kupang barat
Thursday 22 July 2010
22/07 : Alloh Akan Memberimu
Saya tak kuasa membayangkan akan 'nikmat' tsb
Di sini saya hanya ingin berbagi dengan saudara semua,
akan sebuah kisah yang dialami oleh sahabat Rosululloh SAW,
terutama pada kalimat yang sy garis bawahi.
Semoga bermanfaat
****
Rosululloh SAW bertanya kepada jabir:
"Jabir, aku belum pernah melihatmu murung seperti ini,"
"Ayahku mati syahid dan meninggalkan keluarga serta agama" jawab Jabir
"maukah kau aku beritahukan kabar gembira tentang nikmat yang didapatkan ayahmu?"
"tentu saja, Rosululloh"
"Alloh tidak pernah berbicara kecuali dari balik tabir. Tapi Alloh menghidupkan dan mengajak ayahmu berbicara secara berhadap-hadapan.
Alloh berfirman: 'Hambaku, berharaplah kepada-Ku, karena Aku akan memberimu'
Ayahmu berkata: 'Ya Alloh, aku memohon agar Engkau menghidupkanku lagi shg aku bisa terbunuh di jalan-Mu untuk kedua kalinya'
dst...
(HR Tirmidzi)
Post by : Chasan Rome
Thursday 15 July 2010
15/07 : reflection
Tak ada yg pernah tau berapa lama kita akan hidup di dunia ini. Tak ada seorangpun yang bisa menerka jatah yang Alloh berikan untuk menikmati semua nikmat dunia baik itu nikmat sakit maupun nikmat senang. Namun berapapun lamanya pada akhirnya semua akan kembali pada-Nya. Tapi pernahkah terfikirkan oleh kita bagaimana nanti akhirnya?. Ketika sampai pada waktunya jatah kita habis, tak ada yang tersisa selain kenangan bagi mereka yang kita tinggalkan. Namun kenangan pun akan memudar seiring berjalannya waktu.
Ibu yang meninggalkan anak-anaknya atau ayah yang meninggalkan anak-anaknya atau bahkan anak-anak yang meninggalkan orang tuanya. Semua hanya kenangan. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan berganti tahun, akhirnya hanya tinggal kesadaran kemana perginya semua itu. Akan muncul pertanyaan dalam benak kita, apakah kita pernah memiliki mereka? Jawabannya tentu “pernah”. Tapi semua itu rasanya sudah sangat jauh dari kita.
Bila mengingat mereka yang telah pergi, terfikirkan oleh kita bahwa suatu saat kita akan seperti mereka. Tapi kapan? Hanya Alloh yang tau. Lalu sambil menunggu waktu itu datang, apa yang kita lakukan? Bersenang-senang memanfaatkan sisa waktu yang ada dengan alasan “mumpung masih hidup”? terlalu ngoyo mengejar dunia. Atau mempersiapkan diri sampai waktunya tiba? Tapi sejauh apakah persiapan itu? Walaupun kadang kita merasa amal ibadah kita sudah cukup, tapi apakah menurut Alloh juga sudah cukup? Diri ini pasti pernah salah, pernah khilaf, pernah brdosa.
Diri ini juga pasti pernah bertobat, semua itu adalah usaha kita untuk mendapatkan ampunan Alloh, lalu masihkah kita berlengah?menunda-nunda apa yang bisa kita kerjakan sekarang? Terkadang diri ini terasa lelah, muncullah kata “nanti”, “nanti” dan “nanti”, namun tanpa disadari ternyata sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya karena kita menuruti rasa lelah kita.
Ketika kesadaran menerpa kita, semua sudah terlambat, yang ada hanya penyesalan, lalu muncul dalam angan-angan “kalau saja bisa memutar balik waktu”. itu juga yang terfikirkan ketika kita mengingat ayah atau ibu kita yang sudah meninggalkan kita, kalau bisa memutar waktu, akan kita perlakukan orang tua kita lebih baik lagi dari yang pernah kita lakukan. Tapi penyesalan memang datang di akhir.
Berbahagialah bagi mereka yang masih memiliki ibu dan ayah, kakak atau adik, atau bahkan semua yang disayangi dan menyayangi kita. Manfaatkan waktu yang ada, karena ketika salah satu telah tiada, yang ada hanyalah penyesalan dan semua tinggal kenangan akan kasih sayang mereka.
Tidak akan cukup umur kita untuk mengalami semua pengalaman hidup. Selain karena masing-masing diri kita sudah Alloh tentukan jalan hidupnya. Tapi kita punya kesempatan untuk belajar dari pengalaman hidup orang lain. Selalu berusaha belajar menempatkan diri pada posisi orang lain, bila itu menyakitkan kita, mungkin itu juga menyakitkan orang tersebut. ketika kita ingin menyakiti seseorang, berfikirlah, bagaimna kalau kita yang mendapatkan perlakuan seperti itu? Sakit?...tapi terkadang tanpa sengaja kita menyakiti seseorang, namun paling tidak kita sudah berusaha untuk tidak menyakiti.
semoga bermanfaat
mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan.
alhamdulillah jazakumullohu khoiro
wassalammualaikum wr. wb
[Submitted by ela]
Go to page >>


